Tampilkan postingan dengan label Kahanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kahanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 April 2010

JAGOAN KANDANG

Melihat pertempuran tepatnya perang saudara antara penghuni makam mbah Priok dengan Satuan Polisi Pamong Praja (satpol pp), sangat ngenes rasanya, apa pun alasannya. Awalnya mbah Priok di pihak yang lemah, mereka diserbu sarpol pp, ditelanjangi dan digebukin anak kecil pun banyak yang jadi korban. Melihat ketidak seimbangan tersebut Rakyat membantu pihak mbah Priok sehingga pasukan satpol pp lari tunggang langgang sampai ke laut. Pihak satpol pp rupanya dendam karena di pihaknya ada yang babak belur dan putus tangannya, namun mereka lupa bahwa mereka Pamong Praja yang dibayar oleh Rakyat dan yang lebih memalukan mereka memerangi Rakyat yang notabene saudaranya.

Sangat memprihatinkan kondisi Rakyat Indonesia ini mereka sekarang jadi JAGOAN KANDANG. Mereka akan maju bertempur apabila lawannya mereka perkirakan lemah. Mereka berkumpul mendirikan ormas setelah itu lagaknya bak jagoan. Coba perhatikan apabila mereka sendirian mukanya seperti tikus got tapi apabila sudah berkumpul garang seperti macan. 

Satpol PP tak ubahnya seperti centeng-centeng Belanda jaman dulu.

Mari kita bandingkan dengan kondisi Rakyat Indonesia paska peristiwa berdarah di Surabaya 10 Nopember 1945, seperti yang ditulis oleh Tan Malaka

TIGA MINGGU yang lampau Inggris-Nica dengan alasan yang dicari-cari dan berputar-putar dari tempo ke tempo, memajukan tuntutan pada kota Surabaya: supaya rakyat dan tentara dilucuti senjatanya. Maksudnya ialah supaya sesudah rakyat dan tentara dilucuti senjatanya, barulah Nica mau berunding dengan para pemimpin rakyat.

Tuntutan itu cuma satu artinya: Rakyat Indonesia lebih dahulu mesti dilucuti senjatanya. Kemudian akan dijajah kembali oleh Belanda, dengan Inggris sebagai pembantunya.

Rakyat Surabaya tak mau dilucuti senjatanya dan tak mau dijajah kembali. Tak mau pula ia berunding dengan senjata musuh di depan dadanya. Ini cocok dengan kemauan Rakyat Indonesia seluruhnya. Cocok pula dengan anjuran para pemimpin terkemuka di zaman Jepang. Cocok pula dengan semangat kemerdekaan yang sudah didengungkan selama 40 tahun. Cocok dengan hak dan kehormatan suatu Negara Merdeka.

Inggris-Nica dalam hakikatnya mau menjajah. Tuntutannya di atas tadi yang ditolak oleh rakyat Surabaya, dilaksanakannya dengan serangan gabungan dari laut, darat, dan udara. Serangan yang sedahsyat-dahsyatnya selama ini. Tiga minggu lamanya rakyat Surabaya sudah menahan serangan ini.

Hampir berbarengan dengan serangan Suarabaya, dengan maksud begitu juga dan alasan sejenis itu juga —yakni alasan “macan mau memakan anak kambing” menurut cerita terkenal— dengan alasan pura-pura itu sedang terjadi pertarungan hebat di Semarang, Ambarawa, Magelang, Jakarta, Bandung, dan Sumatera. Di mana-mana rakyat menang kalau cuma menjumpai perlawanan pasukan melawan pasukan. Tak ada pasukan Inggris-Nica yang bersenjata lengkap yang bisa menahan serangan pasukan Indonesia bersenjata serba kurang. Inggris bisa menang cuma dengan senjata luar biasa, yang membuat “orangnya” Inggris-Nica tak kelihatan lagi. Makin dekat ke pantai makin besar keuntungan dan kekuatan Inggris. Makin jauh dari pantai makin besar pula keuntungan dan kekuatan Indonesia. Dari Magelang Inggris-Nica sudah terusir sama sekali! Selalu saja Inggris, Belanda, Gurkha ... ataupun Jepang lari tunggang langgang kalau berhadapan pasukan melawan pasukan, orang melawan orang!

Rakyat Indonesia sudah menyambut “PERANG” yang tiada dinyatakan dengan “PERANG”. Rakyat kita sudah benar sikapnya! Rakyat sedang berjuang mati-matian membela sikapnya yang benar itu. Rakyat Indonesia sedang membikin sejarah buat Negara Indonesia dan dunia lain. Rakyat Indonesia ada di bawah pengobaran dunia. Kalah atau menangnya kelak Rakyat Indonesia tiadalah terletak pada kalah atau menangnya berjuang dalam peperangan yang tak sama persenjataan itu!

Kalah atau menangnya itu terletak pada “salah atau benarnya”. Ia mengambil “sikap” terhadap kecerobohan. Dan juga pada lemah atau kuat imannya memegang sikap yang sudah diambilnya. Seandainya pada tanggal 10-11 November itu rakyat Surabaya bertekuk lutut terhadap tuntutan yang melanggar hak dan kehormatannya sebagai bangsa merdeka, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia sekarang akan mengutuki sikap bertekuk lutut itu.

Seandainya kelak Rakyat Indonesia karena kalah sementara pada satu tempat saja sudah patah hatinya dan kemudian mengubah sikapnya, berkhianat kepada sikapnya bermula, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia tiada akan memandang Rakyat Indonesia masak buat merdeka. Tetapi jika sikap yang benar itu tiada bisa menang dalam perjuangan ini, maka di hari depan sikap itu akan diteruskan dipakai pada perjuangan yang akan datang sampai maksud itu tercapai.

Rakyat Indonesia pendeknya sedang berjuang buat kebenaran dan keadilan! Apakah muslihat yang mesti dijalankan dalam peperangan yang tidak sama persenjataan ini?

Di tengah-tengah dentuman mortir dan bom, sambil memperhatikan sikap tegak-tenang di pihak rakyat dan prajurit Surabaya, saya di masa ini lebih yakin lagi akan kebenaran MUSLIHAT yang mesti dijalankan, MUSLIHAT mana sudah lama terkandung dalam pikiran.

MUSLIHAT dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya itulah yang saya coba bentangkan di sini!
Mudah-mudahan brosur ini akan memberi faedah pada para pemimpin perjuangan Indonesia yang maha dahsyat dan paling modern ini. MERDEKA !!!

Sabtu, 06 Maret 2010

Bangsa Pengemis

Mengapa bangsa Indonesia menjadi bangsa pengemis??? Bangsa Indonesia akan bersedia ngantri mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan be-el-te yang diberikan presiden Sby untuk kemenangan partainya. Bangsa Indonesia ngantri mati-matian untuk mendapatkan sembako. Apakah bangsa Indonesia akan mati-matian berperang apabila musuh datang ?? Bangsa Indonesia ibarat ayam mati dilumbung padi. 

Para pemimpin bangsa Indonesia akan mati-matian berjuang untuk mempertahankan kedudukannya. Semangat pantang mundur, walaupun salah - pantang mundur. Tetapi ketika ditantang angkatan laut Malaysia diperairan Ambalat, pemimpin kita malah berkotbah mencari dalih, ini ciri orang pengecut. Lalu apa yang diperbuat pemuda Indonesia menghadapi tantangan Malaysia, mereka berteriak-teriak berdemo, kalau ketemu orang sipil Malaysia mereka swiping. Tantangan Malaysia ada di laut bung. Bangsa Indonesia berani kalau lawannya kecil dan diperkirakan pasti kalah.  APAKAH KITA JANTAN???????? ATAU PENGECUTT ??????

Kita lihat para bonek dengan bangganya merusak dan melawan saudara-saudaranya, kita lihat mahasiswa di Makasar merusak milik bangsanya, kita lihat polisi di Makasar dengan beringas dan gagah berani melawan mahasiswa di Makasar, mudah-mudahan mereka juga berani apabila tiba saatnya berperang dengan bangsa lain. Saya pernah bertanya dengan pejuang kemerdekaan yang dijamannya terkenal gagah berani, berapa orang tentara Belanda yang dia bunuh? Dia jawab lebih dari 20 orang semuanya Nica, apakah Nica yang dia bunuh orang Belanda tulen, dia menggeleng, kebanyakan Ambon, Madura dan Jawa. Dijaman Jepang dia pernah membunuh hanya 1 orang Jepang.

Sekarang musuh utama Indonesia adalah Penjajah Ekonomi, Orang Gila kedudukan, Kemunafikan, Kemalasan dan Kemiskinan.

Apakah bangsa Indonesia berani berperang melawan kemiskinan?
Apakah bangsa Indonesia berani berperang melawan penjajah ekonomi?

Wilayah Indonesia 2/3 nya lautan. Apakah bangsa kita tidak mampu membuat pelabuhan-pelabuhan seperti pelabuhan di Singapore?? Lautan kita dijajah oleh Singapore diantaranya beranikah kita melawannya?? 

Para ulama kita gagal mendidik umatnya untuk tidak berjudi, berjinah, korupsi, minum-minuman, mereka maunya yang instans dengan membuat undang-uandang.

Jalur ekspor maupun impor kita dijajah Singapore, beranikan kita melawannya??? Undang-undang yang dibuat saat ini berdasarkan keinginan negara lain, mengapa?? 

Beranikah bangsa kita berdikari????  

Sebagaimana lambang sila ke lima dalam Panca Sila yang dilambangkan padi dan kapas, bangsa kita cukup dikasi makan dan tidak telanjang, sudah cukup. Sila ini benar-benar dijalankan dan disadari dan dihayati betul oleh Suharto sampai dengan Sby.


Sabtu, 30 Januari 2010

Warsa Kumara putra sang Adipati Karna

Dia adalah titisan Warsa Kumara  yang merupakan Putra Adipati Karna sedang berjuang membela ayahnya dengan menantang Arjuna. Pusakanya sekarang adalah tasbih sakti dan tiupan sirep yang diperoleh dari gurunya Bgawan Dharsono. Selamat berjuang melawan Arjuna sang musuh besar. Semoga sukses.
"Pring padha pring, eling padha eling, eling tanpa nyanding, weruh padha weruh."




Begawan Lumpur Lapindo


Buto Cakil, setelah terjadi Bencana lumpur di Sidoarjo mendapat gelar Begawan Lumpur Lapindo. Gelar ini diberikan karena perusahaannya PT. Lapindo Brantas menyebabkan bencana bagi ratusan ribu umat manusia di Sidoarjo. Banyak orang tiba-tiba menjadi mlarat, stress lalu gila, sakit dan meninggal dunia. 


Keserakahan yang menyebabkan ratusan ribu orang menderita. Sekarang perusahaan tersebut dijual kepada orang asing yang tidak jelas juntrungannya. Penjualan ini untuk menghindari tanggung jawab. Apakah Cakil nanti berhasil menghindar dari pengadilan Allah???

Allah Maha Pengampun namun MAHA ADIL
Innalilalhi wainalilahi roji'un

Ngening